Gempa Padang Berlanjut Sebulan Lebih
JAKARTA--Pengamat gempa yang juga Ketua Pusat Study Bencana Alam (PSBA) UGM, Dr Sunarto memprediksikan jika gempa di Padang Sumatera Barat bisa terus berlanjut. Bahkan gempa susulan yang mengiringi gempa utama 7,6 skala richter, Rabu (30/9) lalu bisa terus berloangsung hingga lebih dari satu bulan.
Dalam siaran persnya yang dikirim Humas UGM, Sunarto mengatakan, prediksi itu didasarkan atas besaran kekuatan gempa pada gempa utama yang cukup besar karena mencapai 7,6 SR.
''Melihat pengalaman gempa di Yogya yang besarannya dibawah gempa Padang saja bisa sebulan, dengan kekuatan yang lebih besar. Saya kira gempa susulan di Padang bisa lebih dari sebulan,'' paparnya, Jumat (2/10) kemarin.
Menurut Sunarto, gempa yang terjadi dua kali di Jambi kemarin pagi merupakan gempa susulan dari gempa Sumbar yang terjadi di Pariaman. ''Setelah di lihat dalam peta, lokasinya gempa di jambi dekat dengan sungai penuh, ternyata daerah itu merupakan daerah zona Semangko Graben (patahan yang turun). Merupakan gempa susulan dengan lokasi tidak lagi di Pariaman,'' tegas dia.
Sehubungan dengan gempa susulan, ia mengharapkan masyarakat lebih mewaspadai kemungkinan longsor di kawasan tebing di sepanjang daerah perbukitan patahan Semangko Graben karena besarnya curah hujan yang turun. Disamping itu, kata Sunarto, adanya gempa susulan yang berpusat di patahan Semangko Graben memungkinkan meningkatnya aktivitas gunung berapi.
''Dalam 2-3 bulan mendatang akan ada aktivitas gunung api yang meningkat," ujar dia. Daerah yang terkena gempa adalah sungai penuh di Jambi, maka kemungkinan yang akan aktif adalah gunung kerinci,'' tambah Sunarto.
Terkait banyaknya korban yang tertimbun dari bangunan yang runtuh, diakui Sunarto, tingkat kerusakan yang paling banyak terjadi di perkotaan, karena terletak di daerah dataran aluvial sehingga menimbulkan dan getaran gelombang gempa cukup dahsyat.
''Prinsipnya amplitudo perkekuatan penggelombangan dataran aluvial yang meruntuhkan rumah penduduk dan bangunan, persis seperti karpet yang dihempaskan,'' papar dia.
Prof Sudibijakto dari PSBA UGM juga mengatakan, banyaknya korban gempa di Padang Sumatera Barat, karena kejadian gempa bertepatan puncak aktivitas masyarakat. ''Itu terjadi bertepatan dengan puncak aktivitas baik perkantoran maupun lainnya sehingga banyaknya korban justru di pusat-pusat aktivitas,''. yli/itz
Dalam siaran persnya yang dikirim Humas UGM, Sunarto mengatakan, prediksi itu didasarkan atas besaran kekuatan gempa pada gempa utama yang cukup besar karena mencapai 7,6 SR.
''Melihat pengalaman gempa di Yogya yang besarannya dibawah gempa Padang saja bisa sebulan, dengan kekuatan yang lebih besar. Saya kira gempa susulan di Padang bisa lebih dari sebulan,'' paparnya, Jumat (2/10) kemarin.
Menurut Sunarto, gempa yang terjadi dua kali di Jambi kemarin pagi merupakan gempa susulan dari gempa Sumbar yang terjadi di Pariaman. ''Setelah di lihat dalam peta, lokasinya gempa di jambi dekat dengan sungai penuh, ternyata daerah itu merupakan daerah zona Semangko Graben (patahan yang turun). Merupakan gempa susulan dengan lokasi tidak lagi di Pariaman,'' tegas dia.
Sehubungan dengan gempa susulan, ia mengharapkan masyarakat lebih mewaspadai kemungkinan longsor di kawasan tebing di sepanjang daerah perbukitan patahan Semangko Graben karena besarnya curah hujan yang turun. Disamping itu, kata Sunarto, adanya gempa susulan yang berpusat di patahan Semangko Graben memungkinkan meningkatnya aktivitas gunung berapi.
''Dalam 2-3 bulan mendatang akan ada aktivitas gunung api yang meningkat," ujar dia. Daerah yang terkena gempa adalah sungai penuh di Jambi, maka kemungkinan yang akan aktif adalah gunung kerinci,'' tambah Sunarto.
Terkait banyaknya korban yang tertimbun dari bangunan yang runtuh, diakui Sunarto, tingkat kerusakan yang paling banyak terjadi di perkotaan, karena terletak di daerah dataran aluvial sehingga menimbulkan dan getaran gelombang gempa cukup dahsyat.
''Prinsipnya amplitudo perkekuatan penggelombangan dataran aluvial yang meruntuhkan rumah penduduk dan bangunan, persis seperti karpet yang dihempaskan,'' papar dia.
Prof Sudibijakto dari PSBA UGM juga mengatakan, banyaknya korban gempa di Padang Sumatera Barat, karena kejadian gempa bertepatan puncak aktivitas masyarakat. ''Itu terjadi bertepatan dengan puncak aktivitas baik perkantoran maupun lainnya sehingga banyaknya korban justru di pusat-pusat aktivitas,''. yli/itz
Ada Apa Dengan Indonesia
BalasHapusButuh sebuah perenungan
Butuh sebuah kebesaran jiwa
Butuh sebuah kesadaran
Untuk berfikir
Apa Yang Harus dan Akan Kita Lakukan ... ?????